IWAN KARAWANG

Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Juni 2010

puisiku

SAAT SAAT TERKESAN DALAM KEHIDUPAN

karya Aba

Tahun telah berganti tahun,

Bulan kan terus betganti sesuai urutan,

Minggu sellllallu bertemu minggu,

haripun silih berganti.

Beberapa masa tellah kita lalui,

Beberapa peristiwa diantara kita tellah kita jalani,

Aku, kau, kalian dan mereka menjadi pelaku dan saksi,

Kala itu kita saling mengenalkan diri,

Kala itu kita saling berbagi,

Kala itu kita saling menyakiti,

Kala itu kita bicara dari hati kehati

Sebuah maha karya cerita sang illahi,

Telah terukir menjadi sebuah narasi,

Narasi kehidupan yang tak mungkin terulang kembali,

Dan hanya dapat terkenang di dalam hati,

Kawan, hari ini akan menjadi saksi,

Beberapa peristiwa silam kan di ganti,

Sebuah pertemuan, pertemanan, dan mungkin permusuhan akan di akhiri,

Sebuah canda, gelegak tawa dan tangisan airmata,

Sebuah kenangan yang takkan terlupakan,

Perpisahan adalah tema peristiwa kita hari ini.

Lepaskan kesedihan, Lepaskan rasa permusukan bahkan dendam di hati,

Lepaskan airmatamu agar menjadi saksi,

Lepaskan rasa rindu untuk bertemu lagi di lain hari

Minggu, 09 Mei 2010

puisi chairil anwar

Karawang-Bekasi ~ karya : Chairil Anwar

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriakMerdekadan angkat senjata lagi.

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam
dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi